Pernahkah Anda mendengar istilah “darah manis” ketika seseorang lebih sering digigit nyamuk dibanding orang lain? Kata ini sering disebutkan jika seseorang sering digigit nyamuk. Namun, apakah benar demikian adanya? Ataukah istilah ini hanya sekadar mitos yang berkembang di tengah masyarakat? Untuk memahami fenomena ini, perlu dilihat dari sisi sains dan juga faktor lingkungan yang memengaruhi gigitan nyamuk.
Baca juga:
- Pengaruh Plastik Mulsa terhadap Kualitas dan Kuantitas Panen
- Bukan Hanya Pelengkap Sup, Ini Manfaat Tersembunyi Lobak Putih
- Rahasia Petani Sukses, Tips Meningkatkan Hasil Panen!
Istilah “darah manis” memang lebih banyak digunakan sebagai kiasan. Pada kenyataannya, nyamuk tidak memilih korbannya berdasarkan rasa manis atau asin darah. Jadi, bukan manisnya darah yang membuat seseorang lebih sering digigit, melainkan faktor biologis yang membuat tubuh orang tersebut lebih “mengundang” nyamuk untuk mendekat.
Salah satu faktor utama adalah karbondioksida yang kita keluarkan saat bernapas. Orang yang bernapas lebih cepat atau menghasilkan lebih banyak karbondioksida, seperti mereka yang habis berolahraga atau memiliki metabolisme tinggi, biasanya lebih menarik perhatian nyamuk. Hal ini bisa membuat seolah-olah orang tersebut memiliki “darah manis”, padahal penyebabnya adalah produksi karbondioksida yang lebih besar.
Selain itu, suhu tubuh dan keringat juga menjadi faktor penting. Nyamuk menyukai suhu hangat karena itu menandakan adanya aliran darah yang baik di bawah kulit. Orang dengan suhu tubuh lebih tinggi atau yang sedang berkeringat biasanya lebih mudah diserang nyamuk. Keringat mengandung asam laktat dan zat kimia lain yang menjadi sinyal bagi nyamuk untuk mendekat. Inilah sebabnya, seseorang yang baru selesai beraktivitas fisik seringkali lebih sering digigit dibandingkan mereka yang sedang dalam kondisi santai.
Setiap manusia memiliki mikrobiota kulit yang berbeda, yang menghasilkan aroma khas. Aroma inilah yang dapat menarik atau justru mengusir nyamuk. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan jenis mikroba tertentu lebih sering menjadi target nyamuk. Kondisi ini menjelaskan mengapa dalam satu ruangan, nyamuk bisa lebih memilih menggigit satu orang daripada orang lainnya, sehingga memunculkan istilah “darah manis”.
Golongan darah juga sering disebut sebagai faktor yang memengaruhi daya tarik nyamuk. Ada beberapa studi yang mengungkapkan orang dengan golongan O akan lebih sering digigit nyamuk. Meski demikian, hal ini masih menjadi perdebatan karena tidak semua penelitian menemukan hasil yang sama. Namun, kepercayaan masyarakat mengenai “darah manis” bisa jadi dipengaruhi oleh fenomena ini, di mana beberapa orang memang secara alami lebih disukai nyamuk.
Selain faktor biologis, gaya hidup dan kondisi lingkungan juga berperan. Orang yang sering menggunakan pakaian berwarna gelap, misalnya, lebih mudah menjadi sasaran nyamuk karena warna gelap menyerap panas dan lebih terlihat oleh nyamuk. Begitu pula dengan kebiasaan memakai parfum atau produk tubuh dengan aroma tertentu yang dapat menarik perhatian serangga ini. Hal-hal semacam ini membuat seseorang tampak lebih sering digigit nyamuk, sehingga istilah “darah manis” semakin dipercaya.
Akan tetapi, yang sering terjadi adalah adanya reaksi alergi berbeda pada kulit manusia terhadap gigitan nyamuk. Sebagian orang mengalami bentol besar, kemerahan, dan gatal hebat setelah digigit. Sedangkan orang lain mungkin hanya merasakan gatal ringan yang cepat hilang.
Menariknya, persepsi “darah manis” juga sering muncul karena faktor psikologis. Ketika seseorang merasa dirinya selalu digigit nyamuk, ia akan lebih fokus pada gigitan tersebut dibanding orang lain. Padahal bisa saja jumlah gigitannya tidak jauh berbeda. Persepsi ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi sehingga istilah tersebut semakin melekat dalam budaya masyarakat.
Meskipun istilah “darah manis” hanyalah kiasan, fenomena sering digigit nyamuk tetap perlu diperhatikan. Nyamuk bukan sekadar serangga pengganggu, tetapi juga pembawa penyakit berbahaya seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Oleh karena itu, penting untuk melindungi diri dengan cara sederhana seperti menggunakan kelambu, memakai lotion anti-nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Kesimpulannya, istilah “darah manis” lebih merupakan penjelasan tradisional untuk fenomena orang yang lebih sering digigit nyamuk. Dalam pandangan ilmiah, faktor biologis seperti karbondioksida, suhu tubuh, keringat, mikrobiota kulit, hingga golongan darah lebih berperan dalam menentukan “kesukaan” nyamuk terhadap seseorang. Jadi, bukan rasa manis darah yang menentukan, melainkan sinyal-sinyal tubuh yang terbaca oleh nyamuk. Namun, apa pun penyebabnya, yang terpenting adalah tetap menjaga diri dari bahaya yang dibawa oleh gigitan nyamuk agar kesehatan tetap terjaga.
Posting Komentar